Perkembangan teknologi infomasi dan komunikasi (Information Communication and Technology/ICT) saat ini merupakan sebuah pergerakan yang sangat cepat dan tak terbendung. Berbagai kemudahan sudah mulai dirasakan berkat kehadiran ICT saat ini. Kemudahan yang dirasakan tidak hanya dalam industri teknologi, kuliner, transportasi bahkan pendidikan.
​Peranan ICT saat ini sudah mulai memasuki dunia pendidikan. Hal ini terlihat sudah mulai maraknya lembaga pendidikan yang memanfaatkan pembelajaran secara elektornik atau yang dikenal e-learning. Bahkan jika kita melihat dunia pendidikan secara lebih luas lagi, peranan “google” sudah sangat dirasakan. Mari kita tengok dalam keseharian kita. Berapa kali dalam sehari kita membuka laman “google”? bahkan untuk mencari refrensi tentang sesuatu saja, kita menggunakan jasa “google” tersebut.
Kembali ke beberapa tahun ke belakang, sebelum awal tahun 2000. Pada masa-masa itu, “google” belum menjadi ‘Sang Maha Tahu’. Siapakah ‘Sang Maha Tahu’ saat itu? Kita dapat menyimpulkan, saat itu guru memiliki peranan yang sangat besar sebagai ‘Sang Maha Tahu’ atau si pemberi informasi (tentunya selain buku-buku di perpustakaan). Guru pada masa itu, selain mengajarkan materi kepada para muridnya, mereka juga mampu memberikan informasi-informasi baru. Dengan singkat cerita, dapat dikatakan bahwa saat itu bentuk komunikasi Pendidikan masih berupa “Information à knowledge”. Komunikasi Pendidikan masa itu menitikberatkan peran guru sebagai pemberi informasi.
Lalu, bagaimana dengan zaman now?
Peranan “google” dalam dunia pendidikan saat ini, bagai pedang bermata dua. Di satu sisi, google mampu memberikan informasi menjadi sangat mudah. Namun, di sisi lain, kemudahan mendapat informasi ini tidak disertai dengan kecakapan memilah informasi. Dewasa ini, semakin marak berita-berita hoax yang bertebaran di setiap lini masa. Bahkan, ketidakcakapan mengolah informasi saat ini berimbas pada buruknya literasi anak didik dalam setiap jenjang Pendidikan. Plagiarism (penjiplakan) sudah mulai dengan mudahnya ditemukan dalam setiap tugas para peserta didik.
Jika kita saat ini melakukan pencarian di laman “google” dengan kata kunci “Can google replace teacher?”, kita akan menemukan sekitar 17,9 juta artikel. Hal ini tentunya menggambarkan bahwa keberadaan google sebagai produk ICT saat ini sudah mulai dikhawatirkan dapat mengganti peran seorang guru.
Apakah benar seperti itu?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita sama-sama melihat manfaat-manfaat utama apa yang seorang anak akan dapatkan dari seorang guru.
Guru sebagai seorang manusia dengan akal budi dan hati, tentunya memiliki kemampuan untuk membangun kedekatan emosi dengan anak didiknya. Kita tentu masih ingat, kalau kita memiliki guru-guru yang sangat dekat dengan kita sewaktu kita mengenyam pendidikan dahulu. Kedekatan tersebut merupakan hal yang tidak dapat kita lupakan. Kedekatan emosional ini, merupakan pintu masuk yang paling tepat dalam dunia Pendidikan, khususnya untuk kids zaman now. Seorang guru mampu berinteraksi, berkomunikasi dan berbagi dari hati ke hati dengan anak didiknya, tentunya akan memberikan warna tersendiri dalam sebuah proses Pendidikan. Para kids zaman now, sudah tidak bisa diperlakukan seperti dua atau tiga generasi di atasnya. Perlakuan dan pendekatan yang tepat oleh seorang gurulah yang mampu membantu pembentukan diri kids zaman now menjadi pribadi yang berarti bagi sesama.
Guru pada setiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah hingga tingkat tinggi, sudah sepatutnya mampu menjadi role model bagi para anak didik. Bagimana seorang guru mampu berpikir, bertindak, berucap dengan penuh kesadaran dan motivasi, tentunya akan membantu para peserta didik untuk mampu menigkatkan motovasi diri, ketangguhan, kepercayaan diri. Hal tersebut tentunya akan membentuk sebuah rasa memiliki dalam diri anak. Rasa memiliki yang paling penting dalam hal ini adalah rasa memiliki terhadap diri sendiri, sehingga dalam pribadi anak, mereka mampu memiliki kebanggaan terhadap diri sendiri termasuk rasa syukur dengan apa yang anak miliki saat ini. Baik itu keluarga, persahabatan maupun kesempatan mengenyam pendidikan yang berkualitas.
Jika sebelumnya, komunikasi Pendidikan terdahulu masih berupa “Information à knowledge” maka untuk para kids zaman now ini, komunikasi Pendidikan menjadi “Information à Information process à knowledge”. Peran guru saat ini adalah bersama para anak didik mengolah informasi, yang dengan mudahnya didapatkan dengan pencarian di ‘google’. Pengolahan informasi yang dilakukan para guru ini tentunya harus disertakan dengan kebijaksaan (wisdom). Wisdom inilah yang akan membantu anak menyadari bahwa setiap ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan, tentunya harus dipergunakan untuk kebaikan sesama.
Kesimpulannya, semaju apapun teknologi informasi dan komunikasi (ICT) saat ini dan beberapa waktu ke depan, tidak akan mampu menggantikan peran seorang guru dalam proses pendidikan. Hal ini dikarenakan, teknologi tidak akan mampu memberikan sentuhan emosional, kepercayaan, motivasi, bahkan kebijaksaan bagi para anak didik. Semua itu tetap akan didapatkan melalui sentuhan manusia.

Proses Pendidikan akan berjalan dengan baik jika di dalamnya terpadu dengan baik antara pengetahuan dan hati
Handoko Kusalaviro, Francis School Principle

Catatan :
Artikel ini telah disampaikan pada sesi parents gathering Francis School, 28 April 2018 di Bfit Community BSD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *